Postingan

  Desa Bali Aga Tigawasa   Menurut Wikipedia, Bali Aga adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunan serta pekarangan, pengaturan letak bangunan, hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun-temurun dipertahankan. Selain itu   Parwata (2004) mengatakan bahwa sejarah awal keberadaan masyarakat Bali Aga berasal dari Desa Aga yang berimigrasi ke Bali di bawah pimpinan Maha Rsi Markandeya sekitar adab ke-9 Masehi, daerah – daerah yang mereka tuju di Bali adalah daerah-daerah pegunungan, hai ini berkaitan erat dengan latar belakang kebudayaan mereka di tempat asal yakni kebudayaan pegunungan. Setelah bermukim di Bali mereka dikenal dengan nama orang Bali Aga, sesuai dengan daerah asal mereka. Mereka memliki keterkaitan yang kuat terhadap daerah pegunungan sehingga wajar mereka menyebut diri mereka sebagai o...
Sedikit Mengenai Desa Adat (Desa Pekraman) di Bali Wacana mengenai Desa Pakraman sudah ada sejak zaman Mpu Kuturan. Ini terbukti dari sebuah kutipan lontar Mpu Kuturan sebagai berikut: Desa Pakraman winangun dening Sang Catur Varna manut linging Sang Hyang Aji . Artinya: Desa pakraman itu dibangun oleh Sang Catur Varna (Brahmana. Ksatriya, Vaisya, Sudra) menurut konsep kitab suci. Berdasarkan kutipan ini, Ketut Wiana (2011) memaparkan dengan jelas mengenai konsep Desa Pakraman. Beliau memaparkan bahwa desa pakraman tersebut adalah lembaga sosial religius untuk Sang Catur Varna yang penataannya berdasarkan pustaka suci Hindu. Sayang eksistensi konsep ini terkubur oleh proses sejarah di mana para akhli Belanda menyebut desa-desa di Indonesia dengan berbagai nama yang ditata dengan norma tradisional yang semuanya disebut desa adat. Lebih rinci beliau menjabarkan bahwa kata “desa” dalam bahasa Sansekerta artinya petunjuk atau tuntunan rohani. Pakraman berasal dari kata “g...
Diambil dari: www.portalgaruda.org ISSN 1412 - 8683 PROSESI UPACARA ARI-ARI DENGAN SISTEM GANTUNG (Studi Kasus pada Masyarakat Desa Adat Bayung Gede Kabupaten Bangli) Oleh Ketut Sedana Arta ABSTRAK Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk menganalisis dasar filosofi penguburan ari-ari dengan sistem gantung dan memformulasikan prosesi upacara penguburan ari-ari dengan sistem gantung pada masyarakat Desa Adat Bayung Gede. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengkaji dan memformulasikan rasional dasar dan dasar filosofi penguburan ari-ari dengan sistem gantung di Desa Adat Bayung Gede Kabupaten Bangli, (2) untuk mengkaji dan memformulasikan bentuk prosesi upacara penguburan ari-ari dengan sistem gantung pada masyarakat Desa Adat Bayung Gede dan sarana yang digunakan untuk penguburan ari-ari tersebut, dan (3) untuk menganalisis dan memformulasikan faktor penyebab ari-ari yang digantung di pohon bukak tidak menimbulkan bau busuk dan tidak dicari oleh anjing sert...

teori behavioristik oleh Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Gambar
Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903), Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book (1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940).             Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan ...