Desa Bali Aga Tigawasa
 
Menurut Wikipedia, Bali Aga adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunan serta pekarangan, pengaturan letak bangunan, hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun-temurun dipertahankan.
Selain itu  Parwata (2004) mengatakan bahwa sejarah awal keberadaan masyarakat Bali Aga berasal dari Desa Aga yang berimigrasi ke Bali di bawah pimpinan Maha Rsi Markandeya sekitar adab ke-9 Masehi, daerah – daerah yang mereka tuju di Bali adalah daerah-daerah pegunungan, hai ini berkaitan erat dengan latar belakang kebudayaan mereka di tempat asal yakni kebudayaan pegunungan. Setelah bermukim di Bali mereka dikenal dengan nama orang Bali Aga, sesuai dengan daerah asal mereka. Mereka memliki keterkaitan yang kuat terhadap daerah pegunungan sehingga wajar mereka menyebut diri mereka sebagai orang gunung atau orang Bali Aga. Orang Bali Aga sering pula menyebut diri mereka sebagai Bali Mula. Karena mereka menganggap diri mereka sebagai penduduk yang paling tua, paling awal atau penduduk asli pulau Bali.
Sebagai salah satu desa Bali Aga yang masih eksis di Bali, Desa Tigawasa belum memiliki rekam jejak sejarah yang pasti. Hal ini diamini oleh Ganesha, dkk (2012), dimana mereka mengatakan bahwa asal-usul Desa Tigawasa belum dapat diketahui, masih dalam penyelidikan , tetapi yang nyata Desa Tigawasa adalah masuk Desa Purba (Bali Aga) karena banyak mengandung kepurbakalaan. Menurut Ilmu Bahasa, nama Desa itu terdiri dari kata majemuk, yaitu tiga-wasa (wasa-bahasa kawi) artinya Banjar atau Desa. Jadi Desa Tigawasa terjadi dari 3 (tiga) Banjar : Banjar Sanda, Banjar Pangus, Banjar Kuum Mungggah (Gunung Sari).
Menurut Bapak Sudaya dalam Ganesha, dkk (2012), perkembangan permukiman penduduk pertama kali di daerah wilayah desa (Banjar Dauh Pura). Berdasarkan penuturan beliau sejarah permukiman Desa Tigawasa dimulai di tiga Banjar, yaitu Sanda, Pangus dan Kuum Munggah. Pembanguan permukiman di tiga banjar tersebut mengalami gangguan baik dari binatang yang ada di hutan, maupun mahluk halus. Masyarakat dari ketiga banjar tersebut bersatu dan membangun permukiman baru di wilayah yang baru yang sekarang dikenal sebagai ibu kota desa yaitu Banjar Dauh Pura yang tepat berada di tengah-tengah desa.

Daftar Pustaka

Parwata, I Wayan. 2004. Dinamika Permukiman Perdesaan Pada Masyarakat Bali. Denpasar : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Ganesha, Antariksa, dan  Wardhani.2012.Konsep Pola Ruang Makro Desa Tigawasa.Malang: Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Brawijaya.
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.2014. Tenganan, Manggis, Karangasem.Diakses pada laman: http://id.wikipedia.org/wiki/Tenganan,_Manggis,_Karangasem

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bad Cops, Good Cops #EnglishGames01

tri hita karana dalam pendidikan di bali

Susahnya Jadi Dosen