tri hita karana dalam pendidikan di bali


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Global Warming atau Pemanasan Global merupakan isu yang paling sering dibahas oleh forum dunia dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Hal ini sangat krusial karena manusia di dunia mulai menyadari bahwa alam sebagai penunjang hidupnya beserta makhluk hidup lainnya kini mulai mengalami degradasi menuju kehancuran. Bahkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengeluarkan persetujuan untuk menanggulangi hal ini dengan mengenalkan pilar pendidikan yang kelima, yaitu how to live sustainably (bagaimana hidup berkelanjutan) (Dantes, 2009). Dengan adanya perubahan paradigma pendidikan di dunia, PBB berharap para generasi mendatang lebih peka terhadap isu lingkungan.
Dengan melihat fenomena ini, penulis mencoba untuk berargumen tentang sebuah landasan pendidikan yang menekankan bagaimana manusia selayaknya hidup berdampingan dengan alam lingkungannya. Penulis mengajukan Tri Hita Karana sebagai sebuah landasan pendidikan. Penulis melihat bahwa konsep Tri Hita Karana sejalan dengan apa yang telah diamanatkan PBB untuk hidup selaras dengan alam lingkungannya. Sebenarnya Tri Hita Karana adalah sebuah falsafah hidup yang telah lama ada dan berkembang di Bali. Falsafah hidup ini mengedepankan keselarasan hidup manusia dengan Tuha, alam lingkungannya dan dengan sesame manusia. Di Bali,  filosofi ini telah diwariskan turun temurun melalui berbagai aplikasi kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tri Hita Karana
Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar (babad bali.com).  Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharma-nya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.
Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan.
Tri              = tiga
Hita           = sejahtera
Karana       = penyebab
Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu, bersumber pada keharmonisan hubungan antara:
ü  Manusia dengan Tuhannya.
ü  Manusia dengan alam lingkungannya.
ü  Manusia dengan sesamanya.
Unsur- unsur Tri Hita Karana ini meliputi:
ü  Sanghyang Jagatkarana (Tuhan Yang Maha Esa)
ü  Bhuana (Alam Semesta)
ü  Manusia

Hakikat Tri Hita Karana  mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan nya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Tuhan dikenal dengan istilah Parahyangan. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya dikenal dengan istilah Palemahan. Sedangkan, hubungan manusia dengan sesamanya dikenal dengan istilah Pawongan. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan mengekang diri pada segala tindakan berekses buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai. Contohnya, hubungan antara manusia dengan alam lingkungan perlu terjalin secara harmonis, bilamana keharmonisan tersebut di rusak oleh tangan-tangan jahil, bukan mustahil alam akan murka dan memusuhinya.

2.3 Penerapan Tri Hita Karana dalam Masyarakat Bali
Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan:
1.      Parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa)
Penerapan konsep Parahyangan dalam masyarakat Hindu di Bali dibuktikan dengan adanya tempat suci dalam tiap tingkat daerah. Untuk di tingkat provinsi/kabupaten berupa Kahyangan Jagat. Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga. Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah.
2.      Pelemahan (hubungan manusia dengan alam lingkungannya)
Konsep Palemahan diterapkan dengan cara mempertanggungjawabkan kelestarian alam lingkungannya yang terbatas dalam wilayah tertentu. Tanggungjawab ini diemban oleh masyarakat dalam satuan wilayah tersebut. Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali. Di tingkat desa adat meliputi "asengken" bale agung. Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan. Contoh nyata dari penerapan konsep ini adalah adanya awig-awig dalam suatu desa yang melarang penebangan hutan secara liar. 
3.      Pawongan (hubungan manusia dengan sesamanya)
Konsep Pawongan juga dibatasi oleh wilayah dan kewenangan yang diperoleh oleh masyarakat dalam batas wilayah tertentu. Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali. Untuk di desa adat meliputi krama desa adat. Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga. Hal ini bisa dilihat secara nyata dengan adanya tradisi Ngopin (membantu sesama dengan tulus ikhlas) dalam masyarakat Hindu di Bali.

2.2 Tri Hita Karana dalam Perspektif Dunia
Menurut Bhagawan Dwija (2007), seorang pandita dari Griya Tamansari Lingga, Banyuasri, Singaraja berpendapat bahwa Tri Hita Karana telah diaplikasikan di seluruh dunia, dalam berbagai bentuk aktivitas, oleh perorangan, kelompok, negara bahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tentu saja tidak menggunakan istilah Tri Hita Karana. Tetapi yang penting manusia sedunia telah menyadari bahwa kebenaran konsep itu telah terbukti. Berbagai contoh dapat dikemukakan, misalnya manusia tak akan hidup tenteram bila keyakinan akan adanya kemahakuasaan Tuhan goyah. Manusia juga tidak akan merasa tenteram dan damai bila terjadi konflik antarumat manusia, baik dalam bentuk peperangan maupun aksi-aksi teror. Manusia juga menyadari bahwa apabila ia merusak alam maka ia akan menjadi korban bencana alam. Berbagai organisasi tingkat regional, nasional, dan internasional telah dibentuk untuk mewujudkan Tri Hita Karana secara keseluruhan maupun sektoral.
Kita mengenal adanya WHO, Red Cross, Green Peace, Dewan Keamanan PBB, Pasukan Perdamaian PBB, dan lain-lain. Tri Hita Karana dalam aplikasinya oleh penduduk non-Hindu-Bali, berdiri sendiri. Artinya,  tidak berkaitan dengan konsep-konsep lainnya seperti Tri Murti, Tri Kahyangan, dan Trikaya Parisudha. Banyak pertanyaan yang bisa timbul karena ketidakterkaitan itu. Ini disebabkan setiap unsur Tri Hita Karana ciptaan Mpu Kuturan terjalin dan terkait satu dengan lain. Misalnya kiprah manusia untuk menjaga kelestarian alam didasarkan pada rasa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), dengan tujuan pencapaian kesejahteraan bagi sesama krama desa pakraman. Dalam aplikasi Tri Hita Karana secara global, belum tentu unsur-unsurnya berkaitan erat seperti itu. Misalnya kelompok pencinta penyu melindungi populasi penyu agar tidak punah. Tetapi perlu ditanyakan, apakah kegiatannya itu didasari oleh rasa bakti kepada Tuhan YME, serta untuk mewujudkan kesejahteraan umat manusia.
Selain itu, Anak Agung Gde Agung, seorang tokoh keturunan kerajaan Gianyar, pada tahun 2007, juga mengatakan bahwa Tri Hita Karana sebenarnya sudah ada dan berkembang dari zaman dahulu di dunia, hal ini bisa dilihat dari kutipan pendapat beliau berikut:
“Konsep kosmologi keseimbangan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sejumlah pakar mengenai kosmologi seperti Prof Dr Plaskow dan Christ dari India, Prof Dr Haverkort dari Peru, Prof Dr Millar dari Ghana, Prof Dr Ghimire dari Nepal, Prof Dr Gonese dari Zimbabwe, dan Prof Dr Slikkerveer yang pernah meneliti di Indonesia dalam dialog internasional itu mengakui bahwa konsep itu sebenarnya sudah ada dalam tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat. Mereka sepakat bahwa pada dasarnya, konsep keseimbangan itu adalah ajaran-agama-agama. Kebetulan dalam ajaran Hindu di Bali, Indonesia, konsep itu dikenal dengan Tri Hita Karana.”
Beliau juga berhasil mengenalkan konsep Tri Hita Karana ini ke kancah dunia melalui disertasinya yang berjudul Bali Endangered Paradise? Tri Hita Karana and the Conservation of the Island's Biocultural Diversity, yang dinilai para profesor di Universitas Leiden, Belanda, sebagai konsep terobosan yang dapat diterapkan secara universal di berbagai kebudayaan dunia yang dilanda krisis global dewasa ini.
Sehingga, bisa dikatakan bahwa konsep Tri Hita Karana adalah sebuah konsep yang bersifat lokal universal. Dimana konsep local genius ini bisa diterapkan secara universal di seluruh dunia dalam mengatasi masalah global dewasa ini yang sejatinya bersumber dari sifat individualistis dan materialistis.

2.2 Tri Hita Karana Sebagai Sebuah Landasan Pendidikan
Setelah melihat berbagai aplikasi Tri Hita Karana dalam masyarakat Bali, penulis mencoba untuk melihat nilai-nilai Tri Hita Karana tersebut dalam pengaplikasiannya sebagai sebuah landasan pendidikan.
a.       Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan)
Dengan konsep ini diharapkan nantinya semua proses pendidikan akan dilandasi oleh kesadaran akan kuasa Tuhan yang tak terbantahkan. Sehingga nantinya diharapkan anak didik yang dihasilkan menjadi insan spiritual yang selalu mengedepankan ajaran Agama sebagai dasar menjalani hidup. Hal ini senada dengan tujuan pendidikan Indonesia yang tertuang pada Undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terutama pada pasal 3. Dalam pasal 3 tersebut disebutkan bahwa:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
      Dalam pasal tersebut dengan jelas ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah membentuk watak peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b.      Hubungan manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan)
Selain menyelaraskan hidup dengan melandaskan pada ajaran Agama serta berdampingan dengan manusia lainnya, manusia juga harus bisa hidup selaras dengan alam lingkungannya. Jika, manusia tidak menyelaraskan hidupnya dengan alam, maka alam akan balik merugikan. Hal ini bisa dilihat dengan adanya ancaman global warming yang sedang menjadi isu dunia. Manusia terlalu serakah mengeksploitasi kekayaan alam di dunia tanpa memikirkan keberlangsungan kehidupan alam itu sendiri. Contohnya lainnya adalah, penebangan hutan yang terlalu dibebaskan, sehingga mengakibatkan banjir terhadap penduduk di hilir sungai karena tidak adanya resapan air di hulu. Oleh karena itu, manusia harus bisa menyelaraskan hidupnya dengan alam agar alam juga bisa tetap lestari dan mampu menopang kehidupan manusia dalam jangka waktu yang panjang. Dengan konsep Palemahan anak didik diharapkan nantinya memiliki kesadaran yang tinggi untuk melestarikan alam lingkungannya.
c.       Hubungan manusia dengan manusia (Pawongan)
Pada hakekatnya manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa kehadiran manusia lainnya dalam suatu komunitas. Oleh karena itu, manusia harus bisa hidup bermasyarakat dengan harmonis di dalam komunitasnya. Agar bisa hidup berdampingan dengan harmonis, maka manusia itu pun perlu belajar menjadi manusia yang memiliki rasa sosial yang tinggi. Melalui konsep Pawongan ini diharapkan peserta didik akan belajar menjadi insan manusia yang berjiwa sosial tinggi. Sehingga nantinya bisa bermasyarakat dengan baik. Hal ini senada dengan Komisi Internasional bagi Pendidikan Abad ke 21 yang dibentuk oleh UNESCO yang telah melaporkan bahwa di era global ini pendidikan dilaksanakan dengan berstandar pada empat pilar pendidikan, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together (Delors, 1996; dalam Dantes, 2009). Kita bisa lihat disini bahwa belajar untuk hidup berdampingan dengan orang lain (learning to live together) menjadi perhatian dunia.

Dengan menerapkan Tri Hita Karana yang merupakan kearifan lokal (local genius) masyarakat Bali sebagai sebuah landasan pendidikan, diharapkan peserta didik akan menjadi manusia seutuhnya. Dimana mereka akan menjadi insan yang hidup berlandaskan ajaran agama, memiliki nilai-nilai sosial yang mampu membuat mereka membentuk masyarakat yang damai, serta sadar akan keberlangsungan alam lingkungannya. 
Dengan menerapkan falsafah tersebut diharapkan juga dapat menggantikan pandangan hidup modern yang lebih mengedepankan individualisme dan materialisme. Membudayakan Tri Hita Karana akan dapat memupus pandangan yang mendorong konsumerisme, pertikaian dan gejolak yang dewasa ini terjadi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Tri Hita Karana  mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan nya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Tuhan dikenal dengan istilah Parahyangan. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya dikenal dengan istilah Palemahan. Sedangkan, hubungan manusia dengan sesamanya dikenal dengan istilah Pawongan.
Aplikasi Tri Hita Karana sebagai sebuah landasan pendidikan dapat dilihat sebagai berikut:
a.       Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan)
Dengan konsep ini diharapkan nantinya semua proses pendidikan akan dilandasi oleh kesadaran akan kuasa Tuhan yang tak terbantahkan. Sehingga nantinya diharapkan anak didik yang dihasilkan menjadi insan spiritual yang selalu mengedepankan ajaran Agama sebagai dasar menjalani hidup. Hal ini senada dengan tujuan pendidikan Indonesia yang tertuang pada Undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terutama pada pasal 3.
b.      Hubungan manusia dengan manusia (Pawongan)
Pada hakekatnya manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa kehadiran manusia lainnya dalam suatu komunitas. Oleh karena itu, manusia harus bisa hidup bermasyarakat dengan harmonis di dalam komunitasnya. Agar bisa hidup berdampingan dengan harmonis, maka manusia itu pun perlu belajar menjadi manusia yang memiliki rasa sosial yang tinggi. Melalui konsep Pawongan ini diharapkan peserta didik akan belajar menjadi insan manusia yang berjiwa sosial tinggi. Sehingga nantinya bisa bermasyarakat dengan baik.
c.       Hubungan manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan)
Manusia juga harus bisa hidup selaras dengan alam lingkungannya. Jika, manusia tidak menyelaraskan hidupnya dengan alam, maka alam akan balik merugikan. Oleh karena itu, manusia harus bisa menyelaraskan hidupnya dengan alam agar alam juga bisa tetap lestari dan mampu menopang kehidupan manusia dalam jangka waktu yang panjang. Dengan konsep Palemahan anak didik diharapkan nantinya memiliki kesadaran yang tinggi untuk melestarikan alam lingkungannya.
3.2 Saran
            Melalui makalah ini, penulis mempunyai beberapa saran mengenai Tri Hita Karana sebagai sebuah landasan pendidikan, seperti:
1.      Penulis berharap agar Tri Hita Karana bisa dijadikan sebagai sebuah alternatif landasan pendidikan bagi para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan.
2.      Adanya sebuah pilot project yang menggunakan Tri Hita Karana sebagai sebuah konsep dalam menjalankan suatu pendidikan. Hal ini akan bermuara pada arah kebijakan pendidikan yang lebih memihak kepada pembentukan manusia yang lebih sempurna. Bali menjadi kandidat yang baik untuk melaksanakan poyek tersebut karena adanya dukungan dari unsur masyarakat yang mana telah kenal dengan baik akan konsep ini.
3.      Penulis berharap konsep Tri Hita Karana bisa diaplikasikan di sekolah-sekolah, khususnya di Bali.


DAFTAR PUSTAKA

Agung, Anak Agung Gde.2007.Tri Hita Karana Sebagai Solusi Global Warming. Tersedia pada: suarapembaruan.co.cc/News/2009/04/19/Profil/pro01.htm Diakses pada tanggal 24 Januari 2011

Antari, Sang Ayu Made Dwi .2008. Ngayah dalam Kehidupan Beragam di Banjar. Tersedia pada:
www.e-banjar.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=170
Diakses pada tanggal 23 januari 2011

Dantes, I Nyoman.2009.Pendidikan Teknohumanistik (Suatu Rangkaian Perspektif dan Kebijakan Pendidikan dalam Menghadapi Tantangan Global).Wordpress.

Dwija, Bhagawan.2007.Tri Hita Karana, Relevansinya Antisipasi Perubahan Iklim Dunia. Tersedia pada: www.balipost.co.id/balipostcetaK/2007/10/31/op2.htm Diakses pada tanggal 23 Januari 2011.

Sukolaras.2009.Tri Hita Karana. Tersedia Pada: sukolaras.wordpress.com/2009/03/30/tri-hita-karana/ Diakses pada tanggal 23 Januari 2011

Wastika, Dewa Nyoman.2005.Penerapan Konsep Tri Hita Karana Dalam Perencanaan Perumahan Di Bali. Tersedia pada:  ejournal.unud.ac.id/abstrak/2.%20wastika%20-%20%20konsep%20tri%20hita%20karana.pdf Diakses pada tanggal 23 januari 2011

Windia, Wayan., Pusposutardjo, Suprodjo., Sutawan, Nyoman., Sudira, Putu., & Arif , Sigit
Supadmo. Sistem irigasi subak dengan landasan tri hita karana (thk) sebagai teknologi sepadan dalam pertanian Beririgasi. Tersedia pada: ejournal.unud.ac.id/abstrak/(17)%20soca-windia-sistem%20subak(1).pdf Diakses pada tanggal 23 Januari 2011

www.babadbali.com/canangsari/trihitakarana.htm  Diakses pada tanggal 23 Januari 2011






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bad Cops, Good Cops #EnglishGames01

Susahnya Jadi Dosen